Iffah adalah konsep etika dan moral dalam Islam yang berarti menjaga kehormatan dan kesucian diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak pantas atau dilarang, terutama yang berkaitan dengan hawa nafsu.
Seorang muslim harus menjaga diri dari kekejian dan kemungkaran, yang didorong oleh iman kepada Allah, ketaatan pada perintah-Nya, serta komitmen terhadap nilai-nilai agama.
Jenis-Jenis iffah
iffah terbagi menjadi beberapa jenis:
- Menjaga kemaluan dari yang haram.
- Menahan diri dari mengingini harta orang lain.
- Mengendalikan anggota tubuh dari dosa.
1. Kesucian Kemaluan dan Menjauhi yang Haram
Allah menggambarkan contoh tertinggi kesucian dalam kisah Nabi Yusuf AS dengan istri Al-Aziz. Meski segala sarana dosa tersedia dan hambatan telah hilang, Yusuf menolak dengan tegas:
“Wanita itu merayunya, dan dia (Yusuf) pun berlindung kepada Allah seraya berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang zalim tidak akan beruntung.’” (QS. Yusuf: 23).
Siapa yang menjaga kesucian seperti Yusuf di tengah godaan, ia akan mendapat naungan Arsy Allah di Hari Kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah… (termasuk) lelaki yang diajak berzina oleh wanita berkedudukan dan cantik, lalu ia menjawab: ‘Aku takut kepada Allah.’” (HR. Bukhari).
Kesucian laki-laki juga melindungi kesucian keluarga mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jagalah kesucian diri, niscaya wanita-wanita kalian akan suci.” (HR. Thabarani).
Bagi yang belum mampu menikah, Allah memerintahkan untuk tetap menjaga diri:
“Dan hendaklah orang yang belum mampu menikah menjaga kesucian hingga Allah mencukupkan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 33).
Rasulullah ﷺ menjanjikan pertolongan Allah bagi yang berniat suci:
“Tiga golongan yang berhak mendapat pertolongan Allah:… orang yang menikah demi menjaga kesucian.” (HR. Tirmidzi).
2. Menahan Diri dari Menginginkan Harta Orang Lain
Allah melarang iri atas nikmat yang diberikan-Nya kepada orang lain (QS. An-Nisa: 32). Dia memuji orang miskin yang menjaga harga diri, tidak memaksa dalam meminta, hingga orang awam mengira mereka berkecukupan:
“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara kesucian diri dari minta-minta (QS. Al-Baqarah: 273).
Rasulullah ﷺ membedakan orang miskin sejati dengan sifat iffah yang dia miliki:
“Bukanlah orang miskin yang mengemis, tetapi yang tidak meminta-minta dan tidak diketahui untuk diberi.” (HR. Bukhari-Muslim).
Rasulullah ﷺ menjamin bagi orang-orang yang menjaga kesucian diri dari meminta Allah akan mencukupinya:
“Siapa yang menjaga diri (dari meminta), Allah akan mencukupkannya.” (HR. Bukhari).
Mengeluh kekurangan hanya kepada Allah, bukan manusia. Sabda Nabi ﷺ:
“Barangsiapa yang ditimpa kefakiran (kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka kebutuhannya tidak akan terpenuhi. Namun, barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan segera memberikannya kecukupan, baik dengan kematian yang cepat atau kekayaan yang segera.” (HR. Abu Dawud).
3. Mengendalikan Anggota Tubuh dari Dosa
Kesucian sempurna tercapai jika mata, telinga, lidah, dan tangan dijaga dari maksiat. Lidah yang tak terkendali bisa menjerumuskan pada ghibah, fitnah, dan cacian. Mata yang liar membuka pintu syahwat, sementara telinga yang mendengar hal haram merusak hati.
Rasulullah ﷺ memuji kaum Anshar:
“Kaum Anshar adalah orang-orang yang suci dan sabar.” (HR. Tirmidzi).
Allah mencintai orang yang suci dan menjaga diri. Sabda Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang malu, suci, dan menjaga diri.” (HR. Baihaqi).
Mereka yang suci termasuk golongan pertama masuk surga:
Ditampilkan kepadaku tiga golongan pertama yang masuk surga dan tiga golongan pertama yang masuk neraka. Adapun tiga golongan pertama yang masuk surga adalah: (1) syahid, (2) hamba sahaya yang baik ibadahnya kepada Tuhannya dan setia kepada tuannya, dan (3) orang yang menjaga kehormatan dirinya (berlaku zuhud) dan menafkahi keluarganya. Sedangkan tiga golongan pertama yang masuk neraka adalah: (1) penguasa yang zalim, (2) orang kaya yang tidak menunaikan hak Allah dalam hartanya, dan (3) orang miskin yang sombong.” (HR. Tirmidzi).
Penutup
Kesucian adalah salah satu sifat mulia yang dijanjikan keberuntungan dunia-akhirat. Rasulullah ﷺ berdoa:
“Ya Allah, berilah kami hidayah, ketakwaan, kesucian, dan kecukupan.” (HR. Muslim).




