Nabi Muhammad ﷺ mengumpamakan perempuan dengan kaca, yang diketahui lembut dan harus dijaga agar tidak pecah atau hilang. Begitu pula, laki-laki harus menjaga perempuan agar tidak terluka atau tersesat.
Anjasyah رضي الله عنه adalah seorang penggembala yang mengiringi unta yang membawa istri-istri Nabi ﷺ dengan suaranya yang merdu. Ketika unta-unta berjalan cepat karena suara Anjasyah, Nabi ﷺ pun khawatir akan keselamatan mereka dan berkata kepada Anjasyah,
“Wahai Anjasyah, bersikap lembutlah terhadap kaca-kaca (perempuan).”
Seperti yang tercatat dalam Shahih Bukhari dari hadis Anas bin Malik رضي الله عنه:
“Nabi ﷺ sedang dalam perjalanan, dan seorang pemuda bernama Anjasyah mengiringi mereka dengan nyanyiannya. Nabi ﷺ berkata: ‘Pelan-pelanlah, wahai Anjasyah, jangan sampai memecahkan kaca-kaca (perempuan)’.“
Abu Qilabah berkata: yang dimaksud adalah perempuan. 1
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Nabi Muhammad ﷺ memiliki seorang penggembala bernama Anjasyah yang memiliki suara merdu. Nabi ﷺ berkata kepadanya: ‘Pelan-pelanlah, wahai Anjasyah, jangan sampai memecahkan kaca-kaca (perempuan).’
Wanita memiliki kelembutan hati, fisik yang lebih lemah, dan sensitivitas tinggi terhadap kata-kata—baik positif maupun negatif. Kata-kata yang diucapkan padanya bisa melekat seumur hidup, berbeda dengan laki-laki yang mungkin mudah melupakannya. Situasi sulit bahkan bisa menghancurkan hidupnya. Oleh karena itu, Nabi SAW berpesan agar laki-laki berbuat baik kepada wanita, karena mereka “ibarat tulang rusuk yang bengkok” (HR. Bukhari 5185-5186, Muslim 47). Jika dipaksa diluruskan, ia akan patah; tetapi jika diterima dengan bijak, harmoni tetap terjaga.
Laki-laki yang bijak akan merawat istri dengan lemah lembut, bercanda, dan memenuhi kebutuhannya. Ini akan membuat istri mencintainya, mendukungnya, dan menciptakan kedamaian rumah tangga. Sebaliknya, suami yang kasar, memerintah layaknya komandan militer, atau sampai mencaci dan memukul (naudzubillah), menunjukkan kebodohan dan kehancuran akhlak—kecuali istri tersebut durhaka (nusyuz). Namun, kekerasan tetap tidak dibenarkan dalam keadaan apa pun.
Rasulullah SAW adalah teladan dalam memperlakukan istri dengan lembut, membantu pekerjaan rumah, dan berpesan, “Berbuat baiklah kepada wanita.” Istri yang dihormati akan membalas dengan cinta dan pengabdian, menciptakan keluarga yang harmonis dan penuh berkah. Beliau mengatakan:
مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فلا يُؤْذِي جارَهُ، واسْتَوْصُوا بالنِّساءِ خَيْرًا، فإنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِن ضِلَعٍ، وإنَّ أعْوَجَ شيءٍ في الضِّلَعِ أعْلاهُ، فإنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وإنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أعْوَجَ، فاسْتَوْصُوا بالنِّساءِ خَيْرًا» “أخرجه البخاري (5185، 5186) واللفظ له، ومسلم (47، 1468
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah menyakiti tetangganya, dan perlakukanlah perempuan dengan baik, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika kamu mencoba meluruskannya, kamu akan mematahkannya, dan jika kamu membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Maka perlakukanlah perempuan dengan baik.” 2
Catatan Kaki




