Hikmah: Kedudukan, Makna, dan Cara Meraihnya dalam Kehidupan

Hikmah memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam agama Allah. Setiap perkataan dan perbuatan, jika disertai dengan sifat hikmah, akan memiliki nilai dan kehormatan. Sebaliknya, jika jauh dari hikmah, ia layak dicela dan dianggap sebagai tindakan bodoh, ceroboh, atau dungu. Oleh karena itu, kita melihat bahwa semua orang, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, penguasa maupun rakyat, bahkan Muslim maupun non-Muslim, mengaku dirinya memiliki hikmah. Mereka sangat bangga dan gembira jika disebut sebagai orang yang bijaksana dalam keputusan dan tindakannya.

Apa Itu Hikmah?

Hikmah adalah akal dan pemahaman yang mendalam tentang agama Allah. Ia adalah penguasaan ilmu dan amal. Segala urusan tidak akan berjalan baik kecuali dengan hikmah, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, memberikan setiap perkara sesuai dengan porsinya, bertindak ketika saatnya tepat, dan menahan diri ketika diperlukan.

Hikmah tidak hanya dimiliki oleh para nabi, tetapi lebih luas dari itu. Tingkatan tertinggi hikmah adalah kenabian dan risalah, namun para pengikut nabi juga memiliki bagian dari hikmah ini. Allah berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ ‎﴿٢٦٩﴾

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 269).

Allah juga berfirman tentang Luqman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ‎﴿١٢﴾

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukurlah kepada Allah. Barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12).

Allah juga menyebutkan tentang Yusuf:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ‎﴿٢٢﴾

“Dan ketika dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 22).

Dan tentang Dawud:

وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ

“dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya..” (QS. Al-Baqarah: 251).

Al-Qur’an, dengan segala keajaiban dan kedalaman maknanya, adalah sumber hikmah. Allah berfirman:

دْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Hikmah juga bisa berarti kenabian dan risalah, seperti dalam firman-Nya:

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ ‎﴿٤٨﴾

“Dan Allah mengajarkan kepadanya Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil.” (QS. Ali Imran: 48),

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ ‎﴿٢٠﴾‏ 

“Dan Kami berikan kepadanya hikmah.” (QS. Shad: 20).

Makna hikmah sangat luas dan tidak terbatas pada hal-hal tersebut.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memelukku ke dadanya dan berdoa: “Ya Allah, ajarkanlah dia hikmah.” (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna hikmah di sini. Ada yang mengatakan: Ketepatan dalam berkata. Ada yang mengatakan: Pemahaman tentang Allah. Ada juga yang mengatakan: Sesuatu yang diakui kebenarannya oleh akal. Ada pula yang menafsirkannya sebagai cahaya yang membedakan antara ilham dan waswas. Bahkan ada yang menafsirkan hikmah sebagai Al-Qur’an. Baca penjelasan Makna Kata Hikmah dalam Al-Quran

Dalam hadis lain:

رجل آتاه الله مالاً فسلطه على هلكته في الحق، وآخر آتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويُعلمها“[رواه البخاري].

“Seorang yang diberi harta oleh Allah lalu dia menggunakannya untuk kebenaran, dan seorang yang diberi hikmah oleh Allah lalu dia memutuskan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dalam syair terdapat hikmah.” (HR. Bukhari), yaitu syair yang benar dan sesuai dengan kebenaran. Dalam hadis lain: “Iman itu Yaman, dan hikmah itu Yaman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hikmah Terbagi Dua

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa hikmah terbagi menjadi dua, yaitu hikmah ilmiah dan hikmah amaliah. Hikmah ilmiah adalah memahami hakikat sesuatu, mengetahui hubungan sebab dengan akibat, baik dalam penciptaan maupun perintah, takdir maupun syariat. Sedangkan hikmah amaliah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Hikmah amaliah memiliki tiga tingkatan:

  1. Memberikan hak setiap sesuatu tanpa melampaui batas, tidak mendahulukan sebelum waktunya, dan tidak mengakhirkan setelah waktunya.
  2. Menyaksikan janji Allah, mengenal keadilan-Nya dalam keputusan-Nya, dan memperhatikan kebaikan-Nya dalam larangan-Nya.
  3. Mencapai tingkat kesadaran yang tinggi dalam berpikir, mengarahkan kepada kebenaran, dan mencapai tujuan dalam setiap isyarat.

Contoh Hikmah dalam Al-Qur’an

Salah satu contoh hikmah dalam Al-Qur’an adalah kisah Ashabul Kahf. Para pemuda ini tidak mengikuti kaum mereka dalam kekafiran dan kesesatan. Mereka memilih mengisolasi diri setelah menyadari bahwa nasihat dan dakwah tidak bermanfaat bagi kaum mereka. Mereka tetap teguh pada kebenaran dan memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang bijaksana: “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, lalu hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun.” (QS. Al-Kahfi: 19).

Semua ini menunjukkan hikmah yang mendalam. Hikmah tidak terbatas pada orang dewasa saja, tetapi juga berlaku untuk anak-anak.

Dalam kisah Sulaiman dengan Ratu Balqis, kita melihat hikmah dalam bertindak dan mengambil keputusan. Perhatiannya terhadap rakyatnya, memeriksa keadaan mereka, tidak terburu-buru dalam menghakimi ketidakhadiran burung hud-hud, dan komitmennya untuk memverifikasi berita tentang Saba’ seperti yang diceritakan oleh hud-hud: “Dia (Sulaiman) berkata: ‘Kita akan melihat apakah kamu benar atau termasuk orang yang berdusta.'” (QS. An-Naml: 27).

Kemudian surat yang dia tulis dengan gaya yang bijaksana: “Sesungguhnya surat ini dari Sulaiman, dan sesungguhnya (isi)nya: ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.'” (QS. An-Naml: 30-31).

Ratu Balqis juga menunjukkan hikmah yang besar dalam memimpin kaumnya dan berpegang pada musyawarah sebagai metode dan perilaku. Hasan berkata: Dia lebih bijaksana daripada mereka dan lebih tahu tentang urusan Sulaiman, serta menyadari bahwa dia tidak mampu melawan pasukan dan tentaranya.

Demikian pula dalam kisah Luqman dengan anaknya, terdapat banyak contoh hikmah.

Hikmah dalam Sunnah

Sunnah juga penuh dengan hikmah. Misalnya, dalam kisah Perjanjian Hudaibiyah, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berinteraksi dengan orang-orang munafik, tidak membunuh Ibnu Salul yang munafik, serta perjuangan Abu Bakar melawan orang-orang yang menolak zakat dan murtad. Semua ini adalah pelajaran berharga yang harus dipahami, karena kesuksesan dakwah sangat bergantung pada hikmah. Kebangkitan Islam dalam kesadarannya yang kontemporer sangat membutuhkan orang-orang bijak.

Kesalahpahaman tentang Hikmah

Pemahaman yang salah tentang hikmah, baik berlebihan maupun kurang, dapat menyebabkan seseorang meremehkan kezaliman, kehilangan kebenaran, dan diam terhadap kebatilan atas nama hikmah. Di sisi lain, beberapa sikap dan tindakan dicirikan oleh kecerobohan dan impulsif, seperti pembunuhan, konfrontasi, atau pembakaran tempat-tempat maksiat. Tindakan seperti ini telah membawa malapetaka bagi umat kita secara umum dan para dai khususnya.

Penghalang Hikmah

Hawa nafsu dan ketidakmurnian hati adalah penghalang terbesar bagi hikmah. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26). “Dan jika kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi.” (QS. Al-Mu’minun: 71).

Dalam hadis: “Jika kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan setiap orang yang bangga dengan pendapatnya sendiri, maka jagalah dirimu sendiri.” (HR. Ibnu Majah). Hawa nafsu membutakan dan memekakkan, seperti yang dikatakan oleh Syaikhul Islam.

Orang yang seperti ini, bagaimana mungkin dia memiliki hikmah? Kebodohan dan hikmah adalah dua hal yang bertentangan dan tidak mungkin bersatu. Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?'” (QS. Az-Zumar: 64).

Di antara hal-hal yang merusak hikmah adalah tidak memahami dalil, menggunakan dalil di tempat yang tidak semestinya, tidak menggabungkan dalil-dalil, kurangnya pengalaman dan pengetahuan, individualisme, tidak menetapkan tujuan, pandangan yang dangkal, tergesa-gesa, tidak mampu mengendalikan diri, kebingungan dalam konsep, mengutamakan hal-hal kecil di atas hal-hal besar, lalai terhadap tipu daya musuh, dan tidak menguasai prinsip maslahat dan mafsadat.

Para ulama berkata: Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu membedakan antara kebaikan dan keburukan, tetapi orang yang tahu mana yang lebih baik di antara dua kebaikan dan mana yang lebih buruk di antara dua keburukan. Syariat Allah seluruhnya adalah maslahat, dan di mana ada maslahat, di situlah syariat Allah.

Bagaimana Mendapatkan Hikmah?

Karena membersihkan diri harus dilakukan sebelum menghiasinya, maka siapa pun yang ingin mendapatkan hikmah harus terlebih dahulu menghilangkan penghalang dan hal-hal yang merusak sebelum memenuhi syarat-syarat dan mencari sebab-sebabnya.

Kesimpulan

Hikmah adalah karunia dari Allah. Kebaikan dan keberkahan yang ada di sisi Allah tidak akan kita dapatkan kecuali dengan ketaatan kepada-Nya. Di antara sebab terbesar untuk mendapatkan hikmah adalah kemurnian hati, keikhlasan, ketakwaan, mencari ilmu syar’i dari sumbernya, bermusyawarah, beristikharah, berpandangan jauh, tujuan yang mulia, memahami sunnah-sunnah kauniyah dan syar’iyah, keadilan, kehati-hatian, kesungguhan, doa, kesabaran, kelembutan, dan keramahan. Semua syarat ini mungkin terkumpul dalam satu orang, meskipun jarang, atau mungkin tersebar di antara sekelompok orang. Oleh karena itu, hikmah bisa sempurna atau relatif, dan yang relatif lebih umum.

Ibnu Qayyim dalam Madarij As-Salikin berkata: Allah mewariskan hikmah kepada Adam dan keturunannya. Orang yang sempurna adalah orang yang memiliki warisan yang sempurna dari ayahnya. Setengah orang seperti wanita memiliki setengah warisan. Perbedaan dalam hal ini tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah. Makhluk yang paling sempurna dalam hal ini adalah para rasul, dan yang paling sempurna di antara mereka adalah ulul azmi, dan yang paling sempurna di antara ulul azmi adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, Allah memberikan karunia kepada beliau dan umatnya dengan hikmah, seperti firman-Nya: “Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. An-Nisa’: 113). Dan firman-Nya: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 151).

Pentingnya Menjaga Hikmah

Kita harus memperhatikan hikmah dan tidak meremehkan dalam hal berbakti kepada orang tua, mendidik anak, bergaul dengan istri, dan menyambung tali silaturahmi. Beberapa orang salah memahami hak kepemimpinan dalam rumah tangga, sehingga mereka menindas istri dan menganggapnya sebagai harta milik, mengabaikan hak-haknya. Ini adalah perbudakan yang tidak diizinkan oleh Allah. Allah berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa’: 19). Ada juga orang yang tunduk pada nafsu, sehingga diperbudak oleh wanita. Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita.

Demikian pula, kita harus memperhatikan hikmah dalam amar ma’ruf nahi munkar. Para ulama telah menyebutkan batasan-batasan dalam hal ini. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan kemungkaran yang lebih besar, tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan menetapkannya atau melakukan kemungkaran lain, tidak boleh memprovokasi keburukan terhadap keluarga, saudara, dan teman, dan tidak boleh merusak diri sendiri tanpa maslahat syar’i. Mengabaikan hikmah memiliki dampak yang jelas.

Kita harus berhati-hati dan teliti dalam menyebarkan berita, terutama yang berkaitan dengan tuduhan terhadap orang lain dan apa yang dapat menyebabkan tersebarnya keburukan di antara orang-orang yang beriman. Allah berfirman: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyebarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja.” (QS. An-Nisa’: 83). Dan firman-Nya: “Ketika kamu menerimanya dengan lidahmu dan kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui, dan kamu menganggapnya ringan, padahal di sisi Allah itu besar.” (QS. An-Nur: 15). Ini terjadi dalam kisah ifk (berita bohong).

Dalam hadis: “Cukuplah seseorang berdosa jika dia menyampaikan segala yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Dalam hal kritik dan menjelaskan kesalahan, beberapa orang berbicara tanpa kendali. Sebaliknya, ada yang menganggap nasihat sebagai aib dan menganggap peringatan terhadap kesalahan sebagai celaan. Mereka menganggap individu, lembaga, dan kelompok sebagai sesuatu yang sakral dan tidak boleh disentuh. Kedua sikap ini tercela, dan menjaga keseimbangan adalah hikmah yang kita maksud dan tujuan yang kita cari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *