Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, semoga Allah meridhoi mereka, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat memiliki masa lemah. Barang siapa yang masa lemahnya menuju sunnahku, maka dia telah beruntung, dan barang siapa yang masa lemahnya menuju selain itu, maka dia telah binasa.”
Hadis ini menjelaskan sebuah kenyataan dan bencana yang mungkin menimpa seorang hamba dalam perjalanannya menuju Allah SWT; terlihat ibadahnya melemah setelah kuat, tekadnya melunak setelah tegas, dan aktivitasnya terhenti setelah bersemangat; inilah yang disebut dengan futur atau kelelahan.
Jadi, apa itu futur? Apa bahayanya? Apa saja fenomena dan tandanya? Apa penyebabnya? Dan bagaimana cara mengatasinya?
Makna futur dan Bahayanya:
Futur adalah keadaan kelelahan atau kelemahan yang perlahan-lahan menyusup ke dalam hati seorang hamba, melemahkannya dari pintu-pintu kebaikan. Bahayanya terletak pada kenyataan bahwa itu hanya terjadi setelah kuat dan semangat; baik dalam ibadah, dakwah kepada Allah, atau pintu kebaikan lainnya. Bahaya futur juga terletak pada kenyataan bahwa itu adalah langkah pertama menuju kemunduran. Ia menyusup ke dalam hati seorang hamba dan tidak datang tiba-tiba; misalnya, meninggalkan shalat dimulai dengan menundanya, kemudian tangga kelelahan dimulai hingga akhirnya ditinggalkan sepenuhnya, dan begitu juga dengan meninggalkan Al-Quran dan pintu-pintu kebaikan lainnya.
futur menghalangi seorang hamba untuk mendapatkan cinta Allah SWT, yang hanya diberikan kepada mereka yang memiliki tekad dan ketekunan; seperti dalam hadis yang sahih:
“Dan hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku…”
Kelelahan (futur) menunda seorang hamba dari derajat tinggi di surga, yang hanya dicapai oleh mereka yang rajin dan tekun; seperti yang dikatakan oleh Muadz bin Jabal, semoga Allah meridhoinya:
“Penduduk surga tidak menyesali apa pun kecuali waktu yang berlalu tanpa mereka mengingat Allah.”
Allah SWT memuji dan memuliakan malaikat-Nya, menyebutkan bahwa salah satu sifat mereka adalah mereka tidak lelah dalam beribadah:
“Mereka bertasbih kepada-Nya malam dan siang, mereka tidak lelah” [Al-Anbiya: 20].
Ketika Allah SWT mengutus Musa dan Harun, alaihimas salam, untuk berdakwah kepada Fir’aun, Dia memperingatkan mereka agar tidak lelah dalam dakwah:
{اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي} [طه: 42]
“Pergilah kamu dan saudaramu dengan tanda-tanda-Ku dan janganlah kamu berdua lelah dalam mengingat-Ku” [Taha: 42];
artinya, jangan futur dalam mengingat-Ku, dan teruslah melakukannya.
Fenomena dan Tanda-tanda Futur:
(Tanda-tanda ini bisa beragam dan berbeda dari satu orang ke orang lain):
1. Kelonggaran dan kemalasan dalam ibadah dan ketaatan tanpa penyesalan atas kelalaiannya; dalam shalat misalnya, tangga kelelahan dimulai dengan meninggalkan shalat sunnah, kemudian absen dari jamaah hingga menjadi berat. Oleh karena itu, Allah mencela orang munafik:
{Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas} [An-Nisa: 142],
{Dan mereka tidak mengerjakan shalat kecuali dengan malas} [At-Taubah: 54].
Adapun keadaan orang yang memiliki tekad yang kuat; Aisyah RA menceritakan keadaan Nabi SAW ketika dipanggil untuk shalat: beliau berdiri seolah-olah tidak mengenal kami.
Salah satu bentuk futur dalam shalat adalah menguap terus-menerus saat shalat, lemahnya mengucapkan “Amin” di belakang imam setelah Al-Fatihah, dan tanda-tanda kelelahan lainnya: lemahnya mengangkat tangan dalam doa, dan dalam dzikir mungkin meninggalkan seratusan tasbih dan tahmid, kemudian tangga kelelahan dan penurunan dimulai.
2. Membuang waktu tanpa manfaat: Salah satu bentuknya adalah sering melamun tanpa manfaat, dan ketika merasa bosan dan jenuh, ia memperluas penggunaan sarana hiburan (situs web, permainan, hiburan, dll); sementara yang benar adalah:
“Barang siapa yang masa lemahnya menuju sunnahku, maka dia telah beruntung, dan barang siapa yang masa lemahnya menuju selain itu, maka dia telah binasa.”
3. Tenggelam dalam syahwat, dan meremehkan dosa sedikit demi sedikit, bahkan mungkin sampai terang-terangan melakukannya; oleh karena itu, ada peringatan dari dosa-dosa kecil ini; seperti dalam hadis yang sahih:
“Hati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil…”
Tidak tertarik pada majelis ilmu dan tinggal di masjid serta tidak sabar terhadapnya, bahkan mungkin merasa sesak, sementara ia antusias terhadap tempat-tempat hiburan dan obrolan, dan Maha Benar Allah benar ketika berfirman:
Dan apabila Allah disebutkan sendiri, hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat menjadi jijik…. [Az-Zumar: 45].
4. Kekerasan hati, sehingga tidak lagi terpengaruh oleh nasihat, tidak menyesal karena kehilangan ketaatan, atau jatuh dalam maksiat.
Penyebab Futur:
1. Menjauh dari suasana keimanan dan tidak memperbarui iman: Dalam hadits disebutkan,
“Sesungguhnya iman itu akan usang di dalam dada salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian, maka mintalah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati kalian” (HR. Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani).
2. Ketergantungan pada dunia dan kesibukan dengannya: Allah memperingatkan kita agar tidak terpedaya oleh kehidupan dunia, sebagaimana firman-Nya:
“Maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian” (Luqman: 33).
3. Panjang angan-angan: Umur itu pendek dan tidak layak untuk disia-siakan, apalagi jika disertai dengan futur. Allah memperingatkan kita tentang panjang angan-angan dan dampaknya dalam banyak ayat.
4. Berlebihan dalam hal-hal yang mubah: Berlebihan dalam tertawa dapat mematikan hati, berlebihan dalam makan memberatkan untuk beribadah, berlebihan dalam tidur menyia-nyiakan banyak kebaikan, dan banyak bergaul tanpa batas membawa banyak kerusakan.
5. Berteman dengan orang-orang yang lemah semangatnya: Mereka yang semangatnya lemah akan menarik Anda ke bawah. Berapa banyak orang yang semangatnya tinggi menjadi lemah karena bergaul dengan orang-orang yang lalai dan futur!
Terapinya?
1. Menghindari penyebab-penyebab sebelumnya.
2. Banyak berdoa, dan renungkan doa yang agung ini, yang merupakan penawar dan obat bagi siapa saja yang semangatnya melemah:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.”
3. Waspadalah terhadap gejala futur, dan kerjakan dari amal yang Anda mampu dengan terus-menerus; dalam hadits yang sahih:
“Ambillah dari amal yang kalian mampu…”,
Buatlah program harian untuk diri Anda yang Anda terus lakukan, meskipun sedikit.
4. Banyak mengingat Allah dan membaca Al-Qur’an; oleh karena itu, Nabi SAW merangkum wasiat bagi siapa saja yang khawatir akan dirinya dari kelelahan karena banyaknya syariat dan pintu kebaikan, beliau bersabda:
“Hendaklah lisanmu tetap basah dengan mengingat Allah.”
5. Mengingat kematian, dan merenungkan baik dan buruknya akhir kehidupan, karena masalahnya bukan pada permulaan; tetapi bagaimana akhirnya yang menentukan nasib manusia; dalam hadits yang sahih:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada akhirnya.”
6. Mengingat pahala di akhirat dan kenikmatan yang Allah siapkan bagi orang-orang yang taat, dan adzab yang Allah siapkan bagi orang-orang yang bermaksiat;




