Perbaruilah Iman Kalian

Manusia secara tabiat menyukai pembaruan dalam segala urusannya. Bagaimana tidak? Ini adalah tuntutan yang diperlukan untuk bisa survive dan tercipta keseimbangan  kehidupan ini. Pembaruan yang dimaksud adalah dengan mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam hadis disebutkan:

جدِّدوا إيمانكم، قيل: يا رسول الله، كيف نجدد إيماننا؟ قال: أكْثِروا من قول: لا إله إلا الله))؛ [رواه أحمد والحاكم والطبراني]

‘Perbarui iman kalian.’ Ditanyakan kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kami memperbarui iman kami?’ Beliau menjawab: ‘Perbanyaklah mengucapkan La ilaha illallah (Tidak ada tuhan selain Allah).'” (HR. Ahmad, Al-Hakim, dan At-Thabarani).

Iman adalah kehidupan, dan memperbarui iman berarti memperbarui kehidupan. Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ [النحل: 97]

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97).

Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang bahagia, dan salah satu syaratnya adalah iman. Iman adalah syarat sah dan diterimanya amal saleh. Bahkan, amal tidak disebut saleh tanpa iman. Iman menghasilkan keyakinan yang kuat yang melahirkan amal perbuatan, baik yang wajib maupun yang sunnah. Barangsiapa menggabungkan iman dan amal saleh, maka Allah akan memberinya kehidupan yang baik, berupa ketenangan hati, ketenteraman jiwa, dan rezeki yang halal lagi baik dari sumber yang tidak disangka-sangka.

Apa kata para ulama tentang kehidupan yang baik?

Beberapa pendapat ulama tentang kehidupan yang baik:

  • Sa’id bin Jubair dan Atha’ berkata: “Kehidupan yang baik adalah rezeki yang halal.”
  • Al-Hasan berkata: “Kehidupan yang baik adalah qana’ah (merasa cukup).”
  • Muqatil bin Hayyan berkata: “Hidup dalam ketaatan.”

Pendapat yang benar adalah bahwa kehidupan yang baik mencakup semua hal tersebut, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

قد أفلح من أسْلَمَ ورُزِقَ كَفَافًا، وقنَّعه الله بما آتاه

 “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah memberinya rasa qana’ah (cukup) dengan apa yang diberikan kepadanya.”

Pertanyaan yang muncul adalah: Apakah iman bisa usang sehingga perlu diperbarui? Ya, iman bisa melemah dalam hati seorang Muslim karena lemahnya ibadah, melakukan maksiat, atau tenggelam dalam hawa nafsu. Iman bisa usang seperti pakaian baru yang lama-kelamaan menjadi usang.

Nabi SAW mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah agar memperbarui iman kita melalui doa, amal saleh, menunaikan kewajiban, amalan sunnah, dan memperbanyak zikir serta istighfar. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Rasulullah SAW bersabda:

إن الإيمان لَيَخْلَقُ في جوف أحدكم كما يخلُق الثوبُ الخَلَقُ، فاسألوا الله أن يجدد الإيمان في قلوبكم

“Sesungguhnya iman dalam hati kalian bisa usang seperti pakaian yang usang. Maka, mintalah kepada Allah agar memperbarui iman dalam hati kalian.”

Ini mendorong kita untuk selalu memohon keteguhan dan pembaruan iman dalam hati kita.

Apa saja faktor yang membantu memperkuat iman?

Di antara faktor yang membantu memperkuat iman adalah :

1. Memperbanyak ketaatan, terutama kewajiban, kemudian amalan sunnah.

Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi:

ما تقرب إليَّ عبدي بشيء أحب إليَّ مما افترضت عليه، ولا يزال عبدي يتقرب إليَّ بالنوافل حتى أحبه

“Tidak ada sesuatu yang lebih Aku cintai dari hamba-Ku daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku akan terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. “

Semakin seseorang taat kepada Allah, semakin bertambah iman dan takwanya. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى ﴾ [محمد: 17]

 “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17).

2. Rajin membaca Al-Qur’an, berzikir, shalat, sedekah, dan amal kebaikan lainnya akan meningkatkan iman dan kecintaan pada kebaikan. Sementara itu, maksiat adalah penyebab keburukan dan kerusakan.

3. Mempelajari sirah (perjalanan hidup) Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Di dalamnya terdapat pendidikan untuk hati, akal, dan pikiran serta peningkatan iman dan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Rasulullah SAW bersabda:

إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدِّد لها دينها

“Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini pada setiap awal seratus tahun seseorang yang akan memperbarui agama mereka.”

Pembaruan yang sejati adalah upaya mendekatkan realitas masyarakat Muslim di setiap zaman dengan masyarakat teladan pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Ini dilakukan dengan menghidupkan kembali konsep, pemahaman, dan metode masyarakat tersebut dalam memahami nash-nash agama, berijtihad, mencatat ilmu pengetahuan, dan membangun sistem kehidupan sesuai dengan ajaran Islam.

Selain itu, pembaruan juga dilakukan dengan memperbaiki penyimpangan pemahaman, pemikiran, amalan, dan perilaku, serta membersihkan masyarakat dari berbagai penyimpangan tersebut tersebut.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *