Kelalaian (Al-Ghoflah) adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya daripada penyakit fisik, karena kelalaian dapat melemahkan agama dan merusak hati, serta membawa kepada kehancuran dan kerugian baik di dunia maupun di akhirat. Penyakit ini sering kali menimpa banyak orang tanpa mereka sadari, dan bencana besar terjadi saat mereka meninggal dunia dalam keadaan lalai. Pada saat itu, mereka berharap untuk kembali ke dunia, namun itu sudah terlambat. Mengapa mereka menginginkan untuk kembali? Karena mereka terbangun dari kelalaian yang mereka alami selama hidup. Kelalaian adalah ketidakpedulian, pengabaian, atau lupa. Ini adalah sifat manusia yang harus diwaspadai dan dihindari, serta diingat bahwa Allah tidak pernah lalai. Baca Juga: Tingkatan Kelalaian
Allah memperingatkan tentang kelalaian dan orang-orang yang lalai. Dia berfirman:
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205).
Allah juga mengabarkan bahwa kebanyakan manusia berada dalam kelalaian:
“Dan sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar lalai terhadap ayat-ayat Kami.” (QS. Yunus: 92).
Manusia lalai terhadap tujuan penciptaan mereka:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.” (QS. Ar-Rum: 7).
Terkadang, sebagian orang saleh pun bisa terjatuh dalam kelalaian, tetapi mereka segera menyadari dan mengingat Allah, lalu bertaubat:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan mereka).” (QS. Al-A’raf: 201).
Tanda-Tanda Kelalaian:
- Malas dalam beribadah dan sedikit mengingat Allah. Di antara sifat orang munafik adalah: “Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’: 142).
- Lalai dalam mempelajari ilmu syar’i, membaca Al-Qur’an, dan mengamalkan dzikir yang melindungi dari godaan setan, baik dari manusia maupun jin.
- Meremehkan hal-hal yang haram dan terbiasa dengan maksiat, bahkan berbangga dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang terang-terangan berbuat dosa. Di antara bentuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang melakukan suatu perbuatan di malam hari, lalu pagi harinya ia berkata: ‘Wahai fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Padahal, Allah telah menutupi dosanya di malam itu, tetapi pagi harinya ia membuka sendiri tutupan Allah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
- Menyia-nyiakan waktu tanpa manfaat. Waktu adalah nikmat, dan hanya orang yang lalai yang menyia-nyiakannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).
Sebab-Sebab Kelalaian:
- Cinta dunia dan terlalu bergantung padanya. Dunia membuat manusia panjang angan-angan dan terbuai oleh harapan palsu, serta menunda taubat. Allah berfirman:
“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang, dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 3).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Anak Adam akan menjadi tua, tetapi dua hal tetap muda padanya: tamak terhadap harta dan tamak terhadap umur.” (HR. Muslim).
- Bergaul dengan orang-orang yang lalai dan teman-teman yang buruk. Allah melarang kita bergaul dengan orang-orang yang lalai:
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).
Allah juga berfirman: “
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19).
As-Sa’di rahimahullah berkata: “Kerugian yang sebenarnya adalah ketika seorang hamba lalai dari urusan ini dan menyerupai orang-orang yang melupakan Allah, lalai dari mengingat-Nya, dan sibuk dengan keinginan dan hawa nafsunya. Mereka tidak berhasil dan tidak mendapatkan apa pun. Bahkan, Allah membuat mereka lupa terhadap kebaikan diri mereka sendiri, sehingga urusan mereka menjadi sia-sia.”
- Berlebihan dalam kenikmatan dan kemewahan. Hal ini menyebabkan manusia hidup dalam kelalaian yang besar dan tenggelam dalam berbagai hal yang mubah, sehingga mereka lalai dari Allah dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dari terlalu sibuk dengan hobi yang ada di zamannya, karena itu adalah sebab utama kelalaian. Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang terlalu sibuk dengan berburu, ia akan lalai.”(HR. Abu Dawud).
Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ini berlaku bagi orang yang terlalu sering melakukannya hingga melalaikannya dari urusan agama dan lainnya.”
Bagaimana dengan permainan gadget, TV, internet dan lain sebagainya di zaman kita yang menghabiskan banyak waktu, sehingga kewajiban, ibadah, dan waktu terabaikan?
- Banyak melakukan maksiat dan dosa. Allah berfirman:
“Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang mereka kerjakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang mukmin, jika ia berbuat dosa, maka akan ada noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan dosa itu, dan beristighfar, maka hatinya akan bersih kembali. Tetapi jika ia terus berbuat dosa, noda itu akan bertambah. Itulah ‘ran’ yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya.” (HR. Ibnu Majah).
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Itu adalah dosa yang menumpuk hingga membuat hati buta, lalu mati.”
- Mengikuti hawa nafsu. Ini adalah salah satu sebab terbesar kelalaian. Allah berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya, serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23).
- Berpaling dari agama Allah. Allah berfirman:
“Telah dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, sedangkan mereka dalam keadaan lalai dan berpaling. Tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya sambil bermain-main, dengan hati yang lalai.” (QS. Al-Anbiya’: 1-3).
Hukuman bagi Orang yang Lalai
Kelalaian memiliki konsekuensi di dunia dan akhirat. Bagi seorang mukmin cukuplah ia menyadari bahwa bahwa kelalaian adalah sifat penghuni neraka. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8).
Allah akan membalas orang-orang yang lalai dengan kelalaian yang lebih besar:
“Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka.” (QS. Ash-Shaff: 5).
Allah juga tidak mengabulkan doa orang-orang yang lalai. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ketahuilah, Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lupa.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan). Pada hari kiamat, orang-orang yang lalai akan menyesal.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa duduk di suatu tempat tanpa mengingat Allah, maka ia akan mendapatkan kerugian dari Allah. Dan barangsiapa berbaring di suatu tempat tanpa mengingat Allah, maka ia akan mendapatkan kerugian dari Allah.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih).
Cara Mengobati Kelalaian:
- Mempelajari ilmu syar’i, banyak membaca Al-Qur’an, dan berdzikir kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dunia itu terlaknat, dan segala isinya terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang mendekatkan kepada-Nya, atau orang yang berilmu atau orang yang belajar.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan).
Dzikir ada dua jenis: dzikir mutlak (kapan saja) dan dzikir muqayyad (terikat waktu, seperti dzikir pagi dan petang, setelah shalat, sebelum tidur, dan sebagainya).
Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, seseorang berkata:
“Wahai Rasulullah, syariat Islam telah banyak bagiku. Beritahulah aku sesuatu yang bisa aku pegang.” Beliau bersabda: “Hendaklah lidahmu selalu basah dengan dzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi, hadits shahih).
- Menghadiri majelis dzikir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah.” Para sahabat bertanya: “Apa itu taman-taman surga?” Beliau menjawab: “Halaqah-halaqah dzikir.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan).
- Menjaga shalat lima waktu berjamaah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa menjaga shalat-shalat wajib ini, ia tidak akan dicatat sebagai orang yang lalai.” (HR. Ibnu Khuzaimah, hadits shahih).
- Bangun malam, meskipun hanya membaca sepuluh ayat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa bangun malam dan membaca sepuluh ayat, ia tidak akan dicatat sebagai orang yang lalai.” (HR. Abu Dawud, hadits shahih).
- Berdoa dan merendahkan diri kepada Allah. Di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, pikun, kekerasan hati, dan kelalaian.” (HR. Ibnu Hibban, hadits shahih).
- Zuhud terhadap dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir jika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan dunia itu menipu kalian sebagaimana dunia menipu mereka.” (HR. Bukhari).
- Banyak mengingat kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (yaitu kematian), karena tidaklah seorang hamba mengingatnya dalam keadaan sempit kecuali ia akan merasa lapang, dan tidaklah ia mengingatnya dalam keadaan lapang kecuali ia akan merasa sempit.” (HR. Ibnu Hibban, hadits hasan).
Kematian adalah nasihat terbesar, dan jika seseorang mengingatnya, ia akan tersadar dari kelalaiannya.




