Istighfar untuk Dosa yang Nyata dan yang Tersembunyi

Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia pasti tidak luput dari dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu memohon ampunan kepada Allah Z. Istighfar, atau memohon ampunan kepada Allah, adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Seorang Muslim diperintahkan untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Dosa yang tidak disadari bisa berupa niat buruk yang tersembunyi dalam hati seperti riya’ (pamer dalam beribadah) dan sejenisnya, yang mungkin luput dari perhatian hamba karena kehalusan dan kesamarannya, atau berupa kelalaian dalam beribadah, atau karena kebodohan dalam mengetahui hukum syariat.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis Mu’aqil bin Yasar f, ia berkata:
Aku pergi bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq f. kepada Nabi e. Beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, kemusyrikan di antara kalian lebih samar daripada jejak semut.” Abu Bakar bertanya: “Apakah kemusyrikan itu bukan berarti menyekutukan Allah dengan tuhan lain?” Nabi e menjawab: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kemusyrikan itu lebih samar daripada jejak semut. Maukah kuajarkan kepadamu suatu kalimat yang jika kau ucapkan, akan hilang darimu kemusyrikan sedikit maupun banyak?”  

Ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنَّ أَشْرَكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَاسْتَغْفَرَكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu yang aku ketahui, dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan disahihkan oleh Al-Albani).

Istighfar ini adalah permohonan ampunan atas dosa yang diketahui Allah sebagai dosa, meski hamba tidak menyadarinya. Dalam hadis sahih, Nabi SAW biasa berdoa dalam salatnya:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَم بِهِ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلَّ ذَلِكَ عِنْدِي، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرَتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَم بِهِ مِنِّي ، أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, sikap berlebihanku dalam urusanku, dan segala yang Engkau lebih tahu dariku. Ya Allah, ampunilah kesungguhanku, kelalaianku, kesalahanku yang disengaja atau tidak, dan semua itu ada padaku. Ya Allah, ampunilah dosa yang telah kulakukan atau akan kulakukan, yang kurahasiakan atau kutungkapkan, dan yang Engkau lebih tahu dariku. Engkaulah Tuhanku, tiada tuhan selain-Mu.”

Dalam hadis lain:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجَلَّهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ، سِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Ya Allah, ampunilah semua dosaku, yang kecil maupun besar, yang tidak sengaja maupun sengaja, yang tersembunyi maupun terang-terangan, yang awal maupun akhir.”
Doa-doa ini bersifat umum dan menyeluruh, sehingga taubat mencakup dosa yang diketahui maupun tidak.

Ibnu Rajab ketika menjelaskan hadis Nabi: “Jika manusia menimbun emas dan perak, maka timbunlah kalimat-kalimat ini

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ حُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam urusan, tekad untuk berada di jalan benar, rasa syukur atas nikmat-Mu, ibadah yang baik, hati yang bersih, lisan yang jujur, kebaikan yang Engkau ketahui, perlindungan dari keburukan yang Engkau ketahui, dan ampunan atas dosa yang Engkau ketahui. Sungguh, Engkau Maha Mengetahui yang gaib.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan disahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Beliau (Ibnu Rajab) mengatakan, kalimat “Dan aku memohon ampunan atas apa yang Engkau ketahui” mencakup semua yang harus dimohonkan ampunan dari dosa hamba, yang mungkin tidak diketahui semuanya oleh hamba. Sebab, di antara dosa-dosa, ada yang tidak dirasakan oleh hamba bahwa itu adalah dosa sama sekali; seperti riya dan sum’ah.

Sebagian dosa dilupakan oleh hamba dan tidak diingat saat memohon ampunan, sehingga hamba membutuhkan memohon ampunan secara umum dari semua dosa – yang diketahui maupun yang tidak diketahui – dan semua itu telah diketahui dan dicatat oleh Allah. Maka, hendaknya kita merenungkan dengan seksama firman Allah:

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ

“Pada hari ketika Allah membangkitkan mereka semua, lalu Dia memberitakan apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya, sedangkan mereka melupakannya.” (QS. Al-Mujadilah: 6).

Terkait dengan hal itu, seorang ulama tabi’in Ibrahim At-Taimi berkata:

لَأَنَا عَلَى ذُنُوبِي الَّتِي لَا أَذْكُرُهَا، أَخَافُ مِنِّي عَلَى الذُّنُوبِ الَّتِي أَذْكُرُهَا! لَأَنِّي أَسْتَغْفِرُ مِنَ الَّتِي أَذْكُرُهَا

“Aku lebih takut pada dosa yang tidak kuingat daripada dosa yang kuingat, karena aku telah beristighfar untuk yang kuingat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *