Taufik dan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah ﷻ. Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, maka Dia akan membukakan pintu hidayah untuknya. Sebaliknya, barangsiapa yang Allah kehendaki untuk disesatkan, maka Dia akan menutup pintu petunjuk baginya. Allah ﷻ berfirman:
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk disesatkan), niscaya Dia menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Al-An’am: 39).
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 178).
Setiap muslim senantiasa berdoa dalam shalatnya:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6).
Doa ini menunjukkan kesadaran bahwa hidayah adalah karunia Allah yang mutlak. Namun, sebagai hamba, kita juga dituntut untuk berikhtiar, bersabar, dan berusaha meniti jalan istiqamah. Allah telah menganugerahkan kita akal dan kehendak bebas untuk memilih antara kebaikan dan keburukan, antara petunjuk dan kesesatan. Jika kita bersungguh-sungguh dalam mencari sebab-sebab hidayah dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya, maka taufik dari Allah akan datang menghampiri.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan demikianlah Kami uji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata, ‘Apakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah di antara kami?’ Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?” (QS. Al-An’am: 53).
Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menjelaskan panjang lebar tentang hal ini. Beliau menyatakan bahwa meskipun segala sesuatu kembali kepada kehendak Allah, manusia tetap dituntut untuk berusaha. Allah hanya memberikan hidayah kepada orang yang layak untuk diberi petunjuk, dan menyesatkan orang yang layak untuk disesatkan. Allah berfirman:
“Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (QS. Ash-Shaf: 5).
Dan firman-Nya:
“Karena mereka melanggar perjanjian mereka, Kami laknat mereka dan Kami jadikan hati mereka keras.” (QS. Al-Maidah: 13).
Syaikh Ibn Utsaimin menegaskan bahwa kesesatan seseorang adalah akibat perbuatannya sendiri. Seorang hamba tidak tahu apa yang telah Allah takdirkan untuknya, karena takdir hanya diketahui setelah terjadi. Oleh karena itu, tidak pantas bagi seseorang untuk bersikap fatalis dengan berkata, “Ini sudah takdirku,” ketika dia berada dalam kesesatan. Sebaliknya, dia harus berusaha mencari hidayah dan beramal saleh. Baca juga Taufiq Semata-mata Hanya dari Allah – Imron Mahmud
Beliau memberikan perumpamaan yang menarik:
- Sebagaimana seseorang berusaha mencari rezeki meskipun rezeki sudah ditakdirkan, demikian pula dia harus berusaha mencari hidayah dan amal saleh untuk akhirat.
- Jika seseorang sakit, dia akan berusaha mencari dokter terbaik meskipun umurnya sudah ditakdirkan. Lalu, mengapa usahanya untuk akhirat tidak sekuat usahanya untuk dunia?
Allah telah menjadikan jalan menuju akhirat lebih jelas daripada jalan menuju dunia. Jalan ini dijelaskan dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya ﷺ. Namun, manusia sering kali lebih bersemangat mengejar dunia yang hasilnya tidak pasti, sementara melalaikan akhirat yang hasilnya dijamin oleh Allah.
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa manusia bertindak dengan pilihannya sendiri, tetapi kehendak dan pilihannya tunduk pada kehendak Allah. Kehendak Allah selalu terkait dengan hikmah-Nya. Dia memberikan hidayah kepada orang yang Dia ketahui layak untuk mendapatkannya, dan menyesatkan orang yang tidak layak.
Hidayah dan masuk surga adalah hasil dari amal saleh. Allah berfirman tentang penghuni surga:
“Dan diserukan kepada mereka, ‘Itulah surga yang diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.'” (QS. Al-A’raf: 43).
Sebaliknya, kesesatan dan neraka adalah akibat dari perbuatan maksiat. Allah berfirman tentang penghuni neraka:
“Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim, ‘Rasakanlah azab yang kekal. Tidaklah kamu diberi balasan melainkan karena apa yang telah kamu kerjakan.'” (QS. Yunus: 52).
Dengan demikian, seorang muslim harus senantiasa berusaha dan beramal, sambil merendahkan diri di hadapan Allah. Dia menyadari bahwa segala sesuatu berada di tangan-Nya, dan hanya Dialah yang mampu memberikan taufik dan hidayah.




