Dalam kehidupan sosial, keterbukaan seringkali dianggap sebagai sebuah nilai positif. Namun, dalam khazanah Islam, ada kebijaksanaan untuk tidak selalu membuka segala hal. Sebuah nasihat yang sangat dalam datang dari Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, yang mengingatkan kita untuk menjaga tiga hal penting.
Beliau berkata:
“Rahasiakan dari manusia emasmu, tujuanmu, dan mazhabmu.”
Apa makna mendalam dari ketiga hal ini? Mari kita renungkan bersama.
1. Rahasiakan Emasmu (ذهبك)
Yang dimaksud dengan “emas” di sini bukan hanya logam mulia, tetapi segala bentuk harta, keadaan, dan nikmat yang kita miliki. Ini bisa berupa kekayaan, jabatan, pencapaian, atau bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Mengapa harus dirahasiakan?
-
Jika Anda Memilikinya: Memamerkan nikmat bisa menjadi bumerang. Bisa jadi Anda menjadi sasaran iri hati (hasad) atau ketamakan orang lain. Pandangan yang tadinya tulus, bisa berubah menjadi dengki yang diam-diam berharap nikmat itu hilang dari Anda.
-
Jika Anda Tidak Memilikinya: Mengeluh tentang kemiskinan atau kesulitan finansial justru bisa membuat orang lain merendahkan Anda atau memperlakukan Anda dengan rasa iba yang tidak perlu. Setiap orang yang memiliki nikmat, pasti akan ada yang iri kepadanya. Maka, bersyukur dan menjaganya dalam diam adalah langkah terbaik.
2. Rahasiakan Tujuanmu (ذهابك)
“Tujuanmu” merujuk pada segala rencana dan cita-cita besar yang hendak Anda wujudkan—seperti rencana membangun rumah, melangsungkan pernikahan, memulai proyek bisnis, atau melanjutkan studi.
Mengapa harus dirahasiakan?
Nasihat ini mengajak kita untuk menjaga lisan. Banyak bicara tentang rencana seringkali menghabiskan energi yang seharusnya digunakan untuk eksekusi. Lebih dari itu, Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam telah memberikan pelajaran abadi melalui wasiatnya kepada putra kesayangannya, Yusuf, dalam firman Allah:
“Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka akan membuat tipu daya terhadapmu. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5)
Bayangkan, Nabi Ya‘qub khawatir anaknya akan didengki bahkan untuk sebuah nikmat yang masih berupa mimpi. Lalu bagaimana dengan rencana-rencana nyata kita yang bisa memicu rasa iri atau persaingan tidak sehat? Dengan diam, rencana Anda terlindungi dan akan terwujud dengan izin Allah tanpa gangguan yang tidak perlu.
3. Rahasiakan Mazhabmu (مذهبك)
“Mazhab” di sini berarti pendapat pribadi, keyakinan, selera, atau prinsip hidup Anda. Ini tentang apa yang Anda sukai, benci, nilai-nilai yang Anda pegang, dan nasihat yang ingin Anda berikan.
Mengapa harus dirahasiakan?
-
Menjaga Kewibawaan: Terlalu banyak berbicara tentang diri sendiri—tentang apa yang Anda suka, benci, atau pikirkan—dapat menghilangkan “misteri” yang justru membuat Anda tampak berwibawa di mata orang lain. Orang akan lebih menghargai perkataan Anda jika Anda tidak mudah mengobral kata.
-
Menghindari Debat Kusir: Membuka seluas-luasnya pendapat pribadi Anda seringkali menjadi pintu gerbang menuju perdebatan sia-sia yang tidak berguna dan hanya menghabiskan waktu serta energi.
-
Nasihat yang Tepat Waktu: Janganlah memberi nasihat kecuali jika diminta. Nasihat yang tidak diminta seringkali dianggap sebagai celaan atau sikap sok tahu. Dengan menahan diri, nasihat Anda akan lebih bernilai dan didengar ketika benar-benar dibutuhkan.
Penutup: Kuasa Sebuah Diam
Nasihat Imam Ibnul Jauzi ini berpadu sangat erat dengan perkataan Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu:
“Aku menyesal karena berbicara berkali-kali, tetapi aku tidak pernah menyesal karena diam sekali pun.”
Diam adalah benteng. Diam adalah kebijaksanaan. Dengan menjaga tiga rahasia ini—Emas, Tujuan, dan Mazhab—kita bukan hanya melindungi diri dari potensi bahaya, tetapi juga melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih rendah hati, bijaksana, dan penuh wibawa.
Mari kita belajar untuk lebih banyak mendengar dan lebih berhati-hati dalam berkata. Semoga kita semua bisa mengamalkan hikmah ini dalam kehidupan sehari-hari.




