Ibadah rahasia adalah bentuk ibadah yang murni ditujukan hanya kepada Allah Ta’ala, tanpa sedikit pun mengharapkan pujian atau pengakuan dari manusia. Ia jauh dari riya’ (pamer) dan sum’ah (ingin didengar). Puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang mengajarkan kita untuk bertakwa, ikhlas, serta memiliki muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi) dan rasa takut hanya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Karena keistimewaan puasa sebagai ibadah rahasia, Allah menjadikan pahalanya khusus untuk-Nya. Tidak ada malaikat yang mencatat pahalanya, dan tidak ada penghitung selain Allah yang menghitungnya. Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Abu Sa’id:
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi.’” (HR. Ahmad dan Muslim)
Ibadah rahasia adalah ibadah yang murni hanya untuk Allah Ta’ala semata, jauh dari riya’ (pamer) dan sum’ah (ingin didengar). Inilah yang diajarkan oleh puasa kepada kita. Puasa mendidik jiwa untuk bertakwa, ikhlas, serta memiliki muraqabah (kesadaran akan pengawasan Allah) dan rasa takut hanya kepada Allah Ta’ala semata. Allah berfirman:
Al-Munawi berkata: “Aku akan membalas pelakunya dengan balasan yang banyak, dan Aku sendiri yang akan membalasnya, tidak Aku serahkan kepada malaikat yang dekat atau yang lainnya, karena puasa adalah rahasia antara-Ku dan hamba-Ku. Karena dia menahan dirinya dari syahwatnya, maka Aku sendiri yang akan membalas kebaikannya.” (Faidhul Qadir [4/250])
Dalam keharuman bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, terdapat dua makna:
- Puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya di dunia, maka Allah akan menampakkannya secara terang-terangan di akhirat agar orang yang berpuasa dikenal dan diakui oleh manusia sebagai balasan karena mereka menyembunyikan puasa mereka di dunia.
- Puasa adalah ibadah yang tidak bisa dibuktikan secara lahiriah, berbeda dengan ibadah lainnya seperti shalat, zakat, atau haji yang bisa dilihat oleh orang lain.
Dari Shafwan, dari Abu Sa’id, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR. Ahmad [3/45], [11426], An-Nasa’i [4/173], dan dalam Al-Kubra [2567])
Meskipun Allah berfirman dalam kitab-Nya:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'” (QS. Al-An’am: 162-163)
Namun, puasa memiliki keistimewaan sebagai ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Allah menginginkan hamba-Nya untuk menjadikan ibadah mereka murni hanya untuk-Nya semata agar diterima. Baca juga tentang keutamaan penjelasan ibadah rahasia di sini
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata: Seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, aku berdiri di tempat ini (Arafah) dengan mengharap wajah Allah, tetapi aku juga ingin dilihat orang.” Rasulullah ﷺ tidak menjawabnya sampai turun ayat:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا، وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدً
“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110) (Al-Baihaqi: Syu’ab Al-Iman [5/341])
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala pada hari Kiamat akan turun kepada hamba-hamba-Nya untuk memutuskan perkara di antara mereka. Setiap umat akan berlutut. Orang pertama yang dipanggil adalah seorang yang hafal Al-Qur’an, seorang yang mati syahid di jalan Allah, dan seorang yang memiliki harta banyak. Allah bertanya kepada penghafal Al-Qur’an: ‘Bukankah Aku telah mengajarkan kepadamu apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku?’ Dia menjawab: ‘Benar, wahai Tuhanku.’ Allah berkata: ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan apa yang telah kamu pelajari?’ Dia menjawab: ‘Aku membacanya siang dan malam.’ Allah berkata: ‘Kamu dusta!’ Malaikat juga berkata: ‘Kamu dusta!’ Allah berkata: ‘Kamu hanya ingin dikatakan bahwa si Fulan adalah seorang qari’ (penghafal Al-Qur’an), dan itu sudah dikatakan.’ Kemudian orang yang memiliki harta banyak didatangkan. Allah bertanya: ‘Bukankah Aku telah melapangkan rezeki untukmu sehingga kamu tidak membutuhkan siapa pun?’ Dia menjawab: ‘Benar, wahai Tuhanku.’ Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan apa yang Aku berikan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Aku menyambung silaturahmi dan bersedekah.’ Allah berkata: ‘Kamu dusta!’ Malaikat juga berkata: ‘Kamu dusta!’ Allah berkata: ‘Kamu hanya ingin dikatakan bahwa si Fulan adalah seorang yang dermawan, dan itu sudah dikatakan.’ Kemudian orang yang mati syahid didatangkan. Allah bertanya: ‘Mengapa kamu terbunuh?’ Dia menjawab: ‘Aku diperintahkan untuk berjihad di jalan-Mu, maka aku berperang sampai terbunuh.’ Allah berkata: ‘Kamu dusta!’ Malaikat juga berkata: ‘Kamu dusta!’ Allah berkata: ‘Kamu hanya ingin dikatakan bahwa si Fulan adalah seorang yang pemberani, dan itu sudah dikatakan.’ Kemudian Rasulullah ﷺ menepuk lututku dan berkata: ‘Wahai Abu Hurairah, ketiga orang itu adalah makhluk Allah yang pertama kali akan dibakar di neraka pada hari Kiamat.'” (HR. Al-Bukhari dalam Khalq Af’al Al-‘Ibad [42], At-Tirmidzi [2382], An-Nasa’i dalam Al-Kubra [11824], dan Ibnu Khuzaimah [2482])
Dari Umar bin Al-Khaththab, suatu hari dia pergi ke masjid Rasulullah ﷺ dan menemukan Mu’adz bin Jabal sedang duduk di dekat makam Nabi ﷺ sambil menangis. Umar bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Mu’adz menjawab: “Aku menangis karena sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya sedikit riya’ adalah syirik, dan barangsiapa yang memusuhi wali Allah, maka dia telah menantang Allah untuk berperang. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang baik, bertakwa, dan tersembunyi. Mereka adalah orang-orang yang jika tidak hadir, mereka tidak dicari, dan jika hadir, mereka tidak dipanggil dan tidak dikenal. Hati mereka adalah lentera-lentera petunjuk, mereka keluar dari setiap kegelapan.'” (HR. Ibnu Majah [3989], Al-Hakim [4/328], dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman [2316/1])
Dalam hadits shahih dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku benar-benar akan mengenal beberapa orang dari umatku pada hari Kiamat. Mereka datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung, tetapi Allah menjadikannya debu yang berterbangan.” Tsauban berkata: “Jelaskan kepada kami siapa mereka, wahai Rasulullah, agar kami tidak termasuk golongan mereka!” Rasulullah ﷺ bersabda: “Mereka adalah saudara-saudara kalian, dari jenis kalian, dan mereka beribadah di malam hari seperti kalian. Namun, ketika mereka sendirian, mereka melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah [4245], shahih, lihat hadits no. [5028] dalam Shahih Al-Jami’)
Para Salaf dan Ibadah Rahasia
Abdullah bin Amr r.a. berkata:
“Lebih aku sukai untuk shalat satu rakaat di tengah malam daripada shalat sepuluh rakaat di siang hari.”
Diriwayatkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik berada di antara pasukan yang mengepung salah satu benteng Romawi. Benteng itu sangat kokoh, dan sulit untuk dimasuki kecuali melalui lubang kecil tempat keluarnya kotoran kota. Maslamah berdiri dan berseru kepada pasukannya: “Siapa yang mau masuk melalui lubang itu dan menggeser batu yang menutup pintu agar kita bisa masuk?” Seorang laki-laki yang menutupi wajahnya dengan kain berdiri dan berkata: “Aku akan melakukannya, wahai panglima.” Dia masuk melalui lubang itu, membuka pintu, dan pasukan pun masuk ke benteng. Setelah itu, Maslamah berdiri di antara pasukannya dan memanggil orang yang membuka pintu itu untuk diberi penghargaan. Namun, tidak ada seorang pun yang menjawab. Maslamah bersumpah bahwa orang itu harus datang kepadanya kapan pun. Pada suatu malam, pintu rumah Maslamah diketuk. Maslamah menyambutnya dengan gembira dan berkata: “Apakah kamu orang yang membuka pintu itu?” Orang itu menjawab: “Ya, tapi dengan tiga syarat: jangan memberitahu namaku kepada khalifah, jangan memberiku hadiah, dan jangan memperlakukanku secara istimewa.” Maslamah setuju, dan orang itu pun pergi tanpa diketahui identitasnya. (Ibnu Manzhur: Mukhtashar Tarikh Dimasyq [7/273])
Oleh karena itu, puasa mengajarkan kita tentang ibadah yang paling utama, yaitu ibadah rahasia. Ibnu Qayyim berkata, mengomentari perkataan Amirul Mukminin:
“Barangsiapa yang berhias dengan sesuatu yang tidak ada padanya, maka Allah akan mempermalukannya.”
Dia berkata: “Karena orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak ada padanya adalah kebalikan dari orang yang ikhlas. Dia menampakkan sesuatu kepada manusia, padahal dalam hatinya berbeda. Allah akan memperlakukannya dengan kebalikan dari apa yang dia inginkan. Balasan yang berlawanan dengan niat adalah sesuatu yang tetap secara syar’i dan qadari. Sementara orang yang ikhlas, Allah akan memberikan kepadanya manisnya pahala ikhlas, yaitu kecintaan dan penghormatan di hati manusia. Adapun orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak ada padanya, Allah akan mempermalukannya di hadapan manusia karena dia telah mempermalukan hatinya di hadapan Allah.” (I’lam Al-Muwaqqi’in [3/180])
Diriwayatkan bahwa Dawud bin Abi Hind berpuasa selama empat puluh tahun tanpa diketahui oleh keluarganya. Dia membawa makanannya dan memberikannya sebagai sedekah di jalan. Ibnu Al-Jauzi berkata: “Orang-orang di pasar mengira dia sudah makan di rumah, sementara keluarganya mengira dia sudah makan di pasar.” (At-Tadzkirah Al-Hamduniyah [1/51])
Sebagaimana mereka telah ikhlas dalam puasa mereka, mereka juga harus ikhlas dalam semua ibadah mereka. Mereka harus ikhlas dalam shalat mereka dan menjadikannya hanya untuk Allah semata. Oleh karena itu, shalat malam adalah shalat yang paling utama karena dilakukan secara rahasia antara hamba dan Tuhannya. Allah berfirman dalam menggambarkan orang-orang yang bertakwa:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman surga dan mata air. Mereka mengambil apa yang diberikan oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di malam hari. Dan di akhir malam mereka memohon ampun. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang yang meminta dan orang yang tidak memiliki.” (QS. Adz-Dzariyat: 15-19)




