Saat ini kita berada dalam suasana bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah Z telah mengkhususkan bulan ini dengan sejumlah keistimewaan, mengutamakannya dengan berbagai keutamaan, dan membedakannya dengan berbagai ibadah yang agung. Salah satunya adalah ibadah puasa, sebuah ibadah yang dimuliakan oleh Allah Z dan dijadikan sebagai salah satu rukun Islam. Allah menjelaskan ibadah ini dalam beberapa ayat Al-Qur’an untuk menarik perhatian kita pada kedudukannya yang tinggi, pentingnya, serta tujuan dan hikmah di balik pensyariatannya. Kita akan menyelami sebagian dari tujuan dan hikmah ibadah puasa melalui pembahasan yang disampaikan oleh Al-Qur’an.
Pensyariatan Puasa untuk Semua Umat
Al-Qur’an mulai membicarakan puasa dalam Surah Al-Baqarah, salah satu surah awal yang turun setelah hijrah, dengan firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Qs. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini mengabarkan bahwa Allah SWT telah mewajibkan puasa kepada umat ini, sebagaimana Dia telah mewajibkannya kepada umat-umat sebelumnya. Hal ini menunjukkan betapa agungnya ibadah puasa dan bahwa ia termasuk syariat yang mengandung maslahat bagi seluruh umat manusia di setiap zaman.
Terkait ayat ini Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan: “Allah mengabarkan tentang karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan mewajibkan puasa kepada mereka, sebagaimana Dia mewajibkannya kepada umat-umat sebelumnya. Puasa termasuk syariat dan perintah yang mengandung maslahat bagi makhluk di setiap zaman. Di dalamnya terdapat dorongan bagi umat ini untuk berlomba-lomba dalam menyempurnakan amal dan bersegera dalam kebaikan. Puasa bukanlah perkara yang memberatkan yang khusus untuk umat ini.”
Meskipun ada perbedaan dalam tata cara puasa antara umat ini dengan umat-umat sebelumnya, esensi puasa tetap sama, yaitu menahan diri dari beberapa hal sebagai bentuk ibadah kepada Allah Z. Al-Allamah Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa puasa yang diwajibkan kepada umat-umat sebelum kita berbeda dalam tata caranya dengan puasa umat ini. Allah SWT menyandingkan pembicaraan tentang puasa umat ini dengan umat-umat sebelumnya untuk beberapa alasan:
- Menarik perhatian pada ibadah ini dan memuliakannya, karena Allah telah mensyariatkannya sebelum Islam untuk umat-umat sebelumnya dan juga untuk umat Islam. Ini menunjukkan bahwa puasa selalu membawa kebaikan dan pahala yang melimpah, serta mendorong semangat umat Islam untuk menerima ibadah ini agar tidak kalah dari umat sebelumnya.
- Meringankan beban ibadah ini bagi orang yang merasa berat, karena mengikuti orang lain dalam kesulitan dapat menjadi teladan. Ini bermanfaat bagi orang yang mungkin merasa berat dengan puasa, baik dari kalangan musyrik yang enggan masuk Islam karena puasa, maupun dari kalangan baru masuk Islam yang merasa berat.
- Membangkitkan semangat untuk melaksanakan kewajiban ini, agar umat Islam tidak kalah dalam menerima kewajiban ini, bahkan mereka harus melaksanakannya dengan semangat yang melebihi umat-umat sebelumnya.
HIKMAH DAN TUJUAN PUASA
1. Taqwa sebagai Tujuan Utama Puasa
Jika kita beralih untuk membahas tujuan dan hikmah puasa, kita akan menemukan bahwa puasa adalah salah satu ibadah yang paling banyak disebutkan para ulama tentang tujuan dan hikmahnya. Allah Ztelah merangkum tujuan dan hikmah ini dalam pencapaian taqwa, sebagaimana firman-Nya:
“agar kamu bertakwa”
Mencapai taqwa adalah salah satu tujuan dan tuntutan terbesar yang harus dicapai oleh seorang Muslim. Allah Z menciptakan makhluk, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab untuk beribadah dan bertaqwa kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (Qs. Al-Baqarah: 21)
Inti taqwa adalah mewujudkan pengawasan Allah Z dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan. Inilah yang dibentuk oleh puasa dalam hati seorang mukmin.
Puasa adalah salah satu sebab terbesar untuk mencapai taqwa, karena di dalamnya terdapat ketaatan kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di antara taqwa yang terkandung dalam puasa adalah bahwa orang yang berpuasa meninggalkan apa yang diharamkan Allah seperti makan, minum, dan hubungan suami-istri, meskipun dirinya cenderung kepada hal-hal tersebut, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah dan mengharap pahala-Nya. Ini adalah bagian dari taqwa. Selain itu, puasa melatih diri untuk selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga ia meninggalkan apa yang diinginkan nafsunya meskipun ia mampu melakukannya, karena ia tahu bahwa Allah selalu mengawasinya.”
2. Puasa sebagai Penyucian Jiwa
Di antara tujuan puasa adalah menyucikan jiwa dan membersihkannya dari akhlak buruk dan sifat-sifat tercela. Saat seseorang berpuasa, ia melatih dirinya untuk memiliki akhlak yang baik, menjauhi perkataan dusta, keji, sia-sia, dan kata-kata kotor. Ini adalah tujuan yang jelas dari puasa. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri dengan niat yang ikhlas karena Allah, karena puasa dapat menyucikan jiwa, membersihkannya dari kotoran dan akhlak buruk.”
Hal ini juga ditegaskan dalam hadis Nabi e:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Dalam hadis lain, Nabi e bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor atau berteriak. Jika ada yang mencaci atau memusuhinya, maka katakanlah: ‘Saya sedang berpuasa.'” (Muttafaq ‘alaih)
Dengan menjaga akhlak ini selama bulan puasa, seorang Muslim akan terbiasa melakukannya sepanjang tahun.
3. Puasa Mempersempit Jalannya Setan
Di antara tujuan puasa adalah mempersempit jalan setan dalam diri manusia, sehingga kecenderungannya untuk melakukan maksiat dan dosa berkurang, dan justru dirinya cenderung untuk melakukan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah Z.
Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: “Puasa mempersempit jalan setan, karena setan mengalir dalam tubuh manusia seperti aliran darah. Dengan puasa, pengaruh setan melemah, dan maksiat pun berkurang sehingga orang yang berpuasa biasanya lebih banyak melakukan ketaatan.”
Oleh karena itu, Nabi e menyarankan para pemuda untuk berpuasa jika mereka belum mampu menikah, karena puasa memiliki efek besar dalam menahan nafsu dan mengurangi gejolak syahwat. Sebagaimana sabda Nabi e:
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa adalah perisai baginya.” (Muttafaq ‘alaih)
4. Puasa meningkatkan empati orang kaya terhadap orang miskin
Salah satu tujuan puasa adalah agar orang kaya bisa merasakan penderitaan orang miskin, sehingga hati mereka tergerak untuk memberikan bantuan dan sedekah. Hal ini sering terlihat selama bulan Ramadhan.
Mellaui puasa secara langsung kita diajarkan oleh Allah untuk berempati terhadap orang-orang miskin melalui lapar yang kita rasakan sehingga mendorong kita untuk menjadi orang-orang yang dermawan dan memiliki kepedulian kepada orang-orang yang kurang beruntung.
Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi sa sallam menjadikan syarat sempurnanya iman seseorang dengan kepeduliannya terhadap sesama.
“Tidak beriman padaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya lapar dan dia mengetahui hal itu.” (HR. bukhari dan Muslim)
Wujud Rahmat dalam Kewajiban Puasa
Saat membahas tujuan puasa, kita juga tidak boleh melupakan wujud rahmat yang meliputi ibadah agung ini. Meskipun tujuan puasa sangat besar dan kebutuhan manusia terhadapnya sangat mendesak, namun di dalamnya terdapat wujud rahmat ilahi dalam pensyariatannya. Mari kita merenungkan beberapa wujud rahmat ini agar kita semakin mencintai ibadah ini:
- Allah tidak mewajibkan puasa sepanjang tahun, melainkan hanya beberapa hari tertentu, sebagaimana firman-Nya:
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ
“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu” [Al-Baqarah: 184]
Ini adalah bentuk rahmat Allah kepada hamba-Nya, karena Dia mengetahui kelemahan manusia. - Allah tidak langsung mewajibkan puasa, melainkan bertahap dalam pensyariatannya, untuk meringankan beban manusia. Pada awalnya, umat Islam diberi pilihan antara berpuasa atau memberi makan orang miskin, sebagaimana firman-Nya:
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. “ [Al-Baqarah: 184] Kemudian, Allah menetapkan kewajiban puasa secara penuh dalam ayat berikutnya. - Allah memberikan keringanan bagi orang sakit dan musafir untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain, sebagaimana firman-Nya:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” [Al-Baqarah: 184]
Ini adalah bentuk rahmat Allah agar mereka tidak kehilangan manfaat dan hikmah puasa. - Allah menghalalkan makan, minum, dan hubungan suami-istri di malam hari selama bulan Ramadhan, sebagai bentuk rahmat dan keringanan bagi hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu “ [Al-Baqarah: 187]
Demikianlah, melalui renungan ini kita telah melihat sebagian dari tujuan puasa dan wujud rahmat yang terkandung di dalamnya. Seorang Muslim harus yakin bahwa Allah Z tidak membebani hamba-Nya kecuali sesuai dengan kemampuannya, dan semua itu demi kebaikan dan maslahat di dunia dan akhirat.
Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad e, keluarga, dan sahabatnya.




