Taufiq adalah bimbingan dan kekuatan yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba untuk melaksanakan perbuatan yang baik dan benar sesuai dengan kehendak-Nya. Taufiq adalah anugerah ilahi yang membantu seseorang dalam memahami, melaksanakan, dan berpegang teguh pada amal yang diridhai oleh Allah.
Ketika seseorang mendapat taufiq dari Allah, berarti Allah telah memberikan kepadanya pemahaman yang benar, kemauan yang kuat, dan kemampuan untuk melakukan perbuatan yang baik. Ini mencakup segala aspek dari niat yang tulus, upaya yang sungguh-sungguh, hingga ketekunan dalam menghadapi berbagai rintangan dalam beramal.
Ada beberapa sebab untuk mendapatkan taufik, di antaranya:
1. Sebab Pertama: Kerendahan hati, ketundukan, dan pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Allah.
Taufik adalah sepenuhnya karunia dari Allah. Harapan dan perolehannya hanya bergantung kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah yang menceritakan Nabi Syu’aib:
“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hud: 88).
Sebagaimana seorang hamba dituntut untuk berusaha dan bersungguh-sungguh dalam mencari kebaikan, ia juga harus memohon pertolongan kepada Tuhannya. Ia harus menyadari bahwa tidak ada yang mampu memberinya taufik selain Allah. Ia harus memohon taufik seperti orang yang sangat membutuhkan dan berlindung kepada-Nya dari kehinaan. Tidak ada yang dapat melindungi dari murka-Nya kecuali Dia, dan tidak ada jalan untuk mencapai ketaatan dan keridhaan-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya.
Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Doa orang yang sedang kesulitan: ‘Ya Allah, aku mengharapkan rahmat-Mu, janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata. Perbaikilah segala urusanku. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau.'” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban). Artinya, jangan serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sejenak, karena orang yang dicabut taufiknya tidak akan mampu mengendalikan dirinya dan tidak akan aman dari terjerumus dalam kemaksiatan.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Para ahli makrifat sepakat bahwa taufik adalah ketika Allah tidak menyerahkanmu kepada dirimu sendiri, sedangkan kehinaan adalah ketika Allah membiarkanmu bersama dirimu sendiri.”
Di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
“Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliaan-Mu agar Engkau tidak menyesatkanku.” (HR. Muslim). Artinya, janganlah Engkau binasakan aku dengan tidak memberiku taufik untuk mendapatkan petunjuk dan kebenaran.
Perhatikanlah bagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menghadapi kesulitan dalam memahami suatu masalah. Muridnya, Ibnu Abdil Hadi, menceritakan: “Beliau (Ibnu Taimiyah) berkata: ‘Aku pernah membaca sekitar seratus tafsir untuk satu ayat, kemudian aku memohon kepada Allah untuk memahaminya. Aku berkata: ‘Wahai Yang Mengajarkan Adam dan Ibrahim, ajarkanlah aku!’ Aku pergi ke masjid-masjid yang sepi, lalu aku meletakkan wajahku di atas tanah dan memohon kepada Allah: ‘Wahai Yang Mengajarkan Ibrahim, pahamkanlah aku!'”
2. Tidak Terpedaya oleh Kecerdasan dan Akal.
Taufik adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan oleh siapa pun. Ini mengajarkan kita untuk tidak terpedaya oleh kecerdasan dan tidak bergantung padanya. Betapa banyak orang cerdas yang disesatkan oleh Allah, meskipun mereka memiliki ilmu. Perhatikanlah orang-orang kafir yang cerdas dan kelompok-kelompok yang menyimpang dan sesat. Apa yang diberikan oleh kecerdasan mereka?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang sebagian ahli kalam:
“Jika engkau melihat mereka dengan mata takdir—dalam keadaan bingung dan dikuasai setan—engkau akan merasa kasihan dan bersikap lembut kepada mereka. Mereka diberi kecerdasan, tetapi tidak diberi kesucian hati. Mereka diberi pemahaman, tetapi tidak diberi ilmu. (Mereka diberi pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi tidak ada yang berguna bagi mereka ketika mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan azab yang mereka perolok-olokkan menimpa mereka).” (QS. Al-Ahqaf: 26).
Barangsiapa yang memahami hal ini, ia akan mengetahui kedalaman ilmu dan pengalaman para salaf, yang telah memperingatkan dari ilmu kalam dan mencela para pelakunya. Mereka tahu bahwa siapa yang mencari petunjuk selain dari Al-Qur’an dan Sunnah, ia hanya akan semakin jauh dari kebenaran.
Al-Hafizh Adz-Dzahabi mengomentari: “Semoga Allah melaknat kecerdasan tanpa iman, dan semoga Allah meridhai kebodohan yang disertai ketakwaan.” Benarlah perkataan:
“Sedikit taufik lebih baik daripada banyak akal,” atau dalam riwayat lain: “Lebih baik daripada banyak amal,” atau “Lebih baik daripada banyak ibadah.”
Sedangkan seorang penyair berkata:
“Jika tidak ada pertolongan dari Allah untuk seorang pemuda,
Maka usaha kerasnya adalah hal pertama yang akan membinasakannya.”
Abu Ishaq Al-Ilbiri rahimahullah, seorang penyair Andalusia, yang dalam syairnya menasihati anaknya untuk menuntut ilmu:
إِذَا مَا لَمْ يُفِدْكَ الْعِلْمُ خَيْرًا *** فَخَيْرٌ مِنْهُ أَنْ لَوْ قَدْ جَهِلْتَا
وَإِنْ أَلْقَاكَ فَهْمُكَ فِي مَهَاوٍ *** فَلَيْتَـكَ ثُمَّ لَيْتَكَ مَا فَهِمْتَا
“Jika ilmu tidak memberimu manfaat, Maka lebih baik engkau tidak mengetahuinya.
Jika pemahamanmu menjerumuskanmu ke dalam jurang, Maka alangkah baiknya jika engkau tidak memahaminya.”
3. Semangat dan Keteguhan Hati.
Sejauh niat, semangat, keinginan, dan kerinduan seorang hamba, sejauh itu pula taufik dan pertolongan Allah diberikan kepadanya. Sebaliknya, kehinaan akan menimpanya sesuai dengan hal itu. Allah berfirman:
“Jika keduanya menginginkan perbaikan, niscaya Allah akan memberi taufik kepada keduanya.” (QS. An-Nisa’: 35).
Ibnu Qayyim berkata: “Kebahagiaan seorang hamba terletak pada keteguhan hati dan ketulusan dalam beramal. Keteguhan hati adalah mengumpulkan tekad, memantapkannya, dan tidak ragu-ragu. Sedangkan ketulusan dalam beramal adalah mengerahkan segala kemampuan dan tidak bermalas-malasan. Barangsiapa yang jujur kepada Allah dalam semua urusannya, Allah akan memberinya lebih dari yang diberikan kepada orang lain. Kejujuran ini terbentuk dari keikhlasan dan ketawakalan yang benar. Orang yang paling jujur adalah yang keikhlasan dan ketawakalannya benar.”
Ya Allah, berikanlah kami taufik-Mu, berilah kami petunjuk dan kebenaran, dan jauhkanlah kami dari kesalahan, kekeliruan, dan kehinaan. Amin.




