Ada Apa dengan Bulan Sya’ban?

Sesungguhnya di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang besar kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat adalah bahwa Dia telah menyiapkan bagi mereka sebab-sebab untuk meraih keridhaan-Nya dan memperbanyak kebaikan serta amal shalih. Hal ini melalui musim-musim ketaatan di mana kebaikan dan keberkahan berlimpah, dan seorang hamba semakin dekat dan meningkat derajatnya di sisi Allah.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dari hadits Muhammad bin Maslamah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ لربِّكم في أيامِ دهرِكم نَفَحاتٍ، فتَعَرَّضوا له، لعله أن يصيبَكم نَفْحَةٌ منها فلا تَشْقَوْنَ بعدها أبدا

“Sesungguhnya Tuhan kalian ‘Azza wa Jalla memiliki hembusan-hembusan rahmat pada hari-hari dalam kehidupan kalian. Maka, berusahalah untuk meraihnya, semoga salah seorang dari kalian terkena hembusan rahmat tersebut sehingga ia tidak akan celaka selamanya.” (HR. Ath-Thabarani, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).

Di antara musim-musim yang dinantikan dan diperhatikan oleh seorang mukmin adalah bulan Sya’ban, bulan para pembaca Al-Qur’an, bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, bulan persiapan menuju Ramadhan.

Masuknya bulan Sya’ban adalah musim yang agung, di mana kita dapat merenungkan keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita menjumpai bahwa beliau sangat memperhatikan bulan ini, melebihi bulan-bulan lainnya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

يا رسولَ اللهِ لم أرَك تصومُ من شهرٍ من الشُّهورِ ما تصومُ شعبانَ قال ذاك شهرٌ يغفَلُ النَّاسُ عنه بين رجبَ ورمضانَ وهو شهرٌ تُرفعُ فيه الأعمالُ إلى ربِّ العالمين وأُحِبُّ أن يُرفعَ عملي وأنا صائمٌ

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan lain sebanyak yang engkau lakukan di bulan Sya’ban?” Beliau menjawab: “Itu adalah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, terletak antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu, amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa.

Padahal puasa adalah amalan yang tersembunyi, hampir tidak ada yang mengetahuinya, namun karena kesungguhan dan perhatian beliau, hal itu menarik perhatian para sahabat Nabi ﷺ untuk mengetahui apa yang mendorong Nabi melakukan hal itu.

Hari ini, kita berada di salah satu ‘stasiun’ keimanan, yaitu bulan yang sering dilalaikan oleh banyak orang, sebagaimana yang telah diberitahukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Itu adalah bulan Sya’ban.

Mengapa ada perhatian khusus ini, dan apa alasan untuk memperhatikan bulan Sya’ban?

  1. Adapun alasan pertama: Karena ini adalah bulan yang sering dilalaikan oleh banyak orang. “Itu adalah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, terletak antara Rajab dan Ramadhan.”

Umat Islam biasanya memperhatikan bulan Ramadhan karena keutamaan-keutamaannya, dan mereka memuliakan bulan Rajab karena kedudukannya dan kehormatannya.

Namun, Nabi ingin menunjukkan kepada mereka keutamaan bulan Sya’ban. Jika kita merenungkan keadaan kaum muslimin, kita akan menemukan bahwa banyak dari mereka mempersiapkan bulan Ramadhan dengan urusan duniawi di bulan Sya’ban agar bisa fokus pada Ramadhan. Akibatnya, Sya’ban menjadi bulan yang sepenuhnya duniawi, dan di sinilah kelalaian itu terjadi.

Amal dan ketaatan yang dilakukan saat orang lain lalai akan memiliki pahala dan ganjaran yang besar di sisi Allah Ta’ala.

Banyak orang yang lalai dari sholat Subuh, maka pahala yang besar Allah berikan kepada orang yang menjaga shalat Subuh.

Shalat malam, pahala dua rakaat shalat Dhuha, dan juga orang yang memasuki pasar—tempat kelalaian dan kesibukan dengan jual beli—lalu ia mengingat Allah, adalah amalan yang pahalanya besar dan memenuhi catatan amal,  karena disaat itu banyak manusia yang lalai

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa orang yang mendekatkan diri kepada Allah di masa-masa kacau dan fitnah, pahalanya sangat besar:

إنَّ مِنْ ورائِكُمْ أيامَ الصبرِ الصبرُ فيهِنَّ كَقَبْضٍ علَى الجمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهَا أَجْرُ خَمْسِينَ قالوا يا رسولَ اللهِ أجْرُ خمسينَ منهم أَوْ خمسينَ مِنَّا قال خمسينَ مِنْكُمْ

“Sesungguhnya di depan kalian ada hari-hari di mana kesabaran pada saat itu seperti memegang bara api. Bagi orang yang beramal pada saat itu, pahalanya seperti pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalan kalian.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh dari kami atau dari mereka?” Beliau menjawab, “Bahkan pahala lima puluh dari kalian.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بدأ الإسلام غريبًا، وسيعود كما بدأ غريبًا، فطوبى للغرباء، قيل: يا رسول الله، مَنِ الغرباء؟ قال: الذين يصلحون إذا فسد الناس، وفي لفظ آخر قال: هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سُنَّتِي

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka, berbahagialah orang-orang yang asing.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu?” Beliau menjawab: “Mereka yang memperbaiki diri saat orang lain rusak.” Dalam riwayat lain, beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia dari sunnahku.”

  1. Adapun alasan kedua untuk memperhatikan bulan Sya’ban: Karena ini adalah waktu tahunan di mana amal-amal diangkat kepada Allah Ta’ala.

Allah telah menjadikan bulan Sya’ban sebagai penutup amal-amal tahunan. Di bulan ini, amal-amal setahun diangkat, sebagaimana dalam hadits:

وهو شهر تُرفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، فأُحب أن يُرفع عملي وأنا صائم

Dan itu adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa.”

Bulan Sya’ban adalah musim penutup bagi catatan amal kita dan hasil dari amalmu selama setahun ini. Dengan apa tahunmu akan ditutup? Kemudian, dalam keadaan apa kita ingin Allah melihat kita saat amal-amal diangkat? Ini adalah momen penting dalam kehidupan seseorang, ketika malaikat naik dengan membawa hasil amalnya selama setahun

Pengangkatan Amal

Pengangkatan amal kepada Allah Ta’ala terbagi menjadi tiga jenis:

  1. Amal siang dan malam diangkat setiap hari. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah-tengah kami dan mengucapkan lima kalimat:

إنَّ اللهَ لا ينامُ ، ولا ينبغي له أن ينامَ ، ولكن يخفضُ القسطَ ويرفعُه ، يُرفعُ إليه عملُ اللَّيلِ قبل عملِ النَّهارِ ، وعملُ النَّهارِ قبلَ عملِ اللَّيلِ

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak tidur, dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat sebelum amal siang, dan amal siang diangkat sebelum amal malam.”

  1. Amal-amal mingguan diangkat pada hari Senin dan Kamis. Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُعرَض الأعمال في كل اثنين وخميس، فيغفر الله لكل امرئ لا يشرك بالله شيئًا، إلا امرأً كانت بينه وبين أخيه شحناء، فيقول: اتركوا هذين حتى يَصْطَلِحا، وفي رواية الترمذي وابن ماجه: تُعرَض الأعمال يوم الاثنين والخميس، فأُحِب أن يُعرَض عملي وأنا صائم

Amal-amal diperlihatkan setiap Senin dan Kamis, lalu Allah mengampuni setiap orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, kecuali orang yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka, Allah berfirman: ‘Tunda kedua orang ini hingga mereka berdamai.'” Dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah: “Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, dan aku suka jika amalku diperlihatkan saat aku sedang berpuasa.”

  1. Pengangkatan tahunan pada bulan Sya’ban, yaitu pengangkatan amal-amal setahun, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وهو شهرٌ تُرفعُ فيه الأعمالُ إلى ربِّ العالمين

Dan itu adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam.”

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berusaha berada dalam keadaan terbaiknya pada waktu-waktu ini:

فأُحِب أن يُعرَض عملي وأنا صائم

“Dan aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa”

Mengapa beliau mengkhususkan puasa?

Para ulama berkata: Karena puasa adalah ibadah yang terus-menerus dan waktunya panjang, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Jadi, jika pengangkatan terjadi pada waktu apa pun, ia sedang dalam keadaan berpuasa. Oleh karena itu, beliau tidak mengatakan, “Dan aku sedang membaca Al-Qur’an, shalat, atau berdzikir,” tetapi beliau mengkhususkan puasa.

Mereka juga berkata: Karena ibadah puasa melibatkan ibadah-ibadah lainnya. Kita mendapati bahwa orang yang berpuasa bangun untuk sahur, makan sahur, shalat Subuh, dan mengerjakan pintu-pintu kebaikan lainnya.

  1. Adapun alasan ketiga untuk memperhatikan bulan Sya’ban: Karena ini adalah bulan di mana ampunan Allah turun kepada penduduk bumi. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إن الله لَيطَّلع في ليلة النصف من شعبان، فيغفر لجميع خَلْقِه، إلا لمشرك، أو مشاحِن

Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban, lalu mengampuni semua makhluk-Nya, kecuali orang yang musyrik atau yang bermusuhan.” (Dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).

Di bulan Sya’ban, ampunan-Nya meliputi semua makhluk-Nya, barat dan timur, utara dan selatan, Arab dan non-Arab, kecuali dua golongan makhluk yang terhalang dari rahmat dan ampunan ini. Siapakah mereka yang terhalang ini? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إلا لمشرك، أو مشاحِن

“Lalu Dia mengampuni semua makhluk-Nya, kecuali orang yang musyrik atau yang bermusuhan.”

Jika Allah mengampuni seorang hamba di bulan Sya’ban, maka efek dari ampunan ini akan terlihat saat ia menyambut bulan Ramadhan dengan lembaran yang bersih dan dalam keadaan terbaik. Ia akan semakin bersemangat dalam ketaatan dan ibadah, serta meraih sebab-sebab ampunan dan rahmat dengan izin Allah Ta’ala.

  1. Adapun alasan keempat untuk memperhatikan bulan Sya’ban: Karena ini adalah persiapan terbaik untuk kebaikan yang akan datang.

Bulan Sya’ban adalah seperti panduan menjelang bulan Ramadhan. Oleh karena itu, kelalaian di bulan Sya’ban akan memengaruhi kekhusyukan ibadah di bulan Ramadhan. Seorang ulama salaf berkata:

شهر رجب شهر للزرع ، وشعبان شهر السقي للزرع ، ورمضان شهر حصاد الزرع

“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyirami, dan Ramadhan adalah bulan memanen.” Salah seorang dari mereka, ketika memasuki bulan Sya’ban, ia menutup tokonya sebagai persiapan untuk Ramadhan.”

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar memberikan taufik kepada kita untuk taat kepada-Nya di bulan Sya’ban, dan agar Dia mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *